Jumat, 07 September 2012

Petak Umpet

 Sumber foto : www.permata-nusantara.blogspot.com

Sebagai orang Indonesia tentu pernah memainkan atau setidaknya mengenal permainan yang bernama Petak Umpet. Sebuah permainan anak-anak yang sangat populer dan menyenangkan. Karena tidak perlu biaya mahal dan dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat dari status sosial apapun.Permainan ini juga merupakan bentuk sosialisasi awal si Anak dengan anak yang lain dalam suatu kelompok masyarakat. Hal ini juga merupakan kesempatan anak untuk mengenal lingkungan tempat tinggalnya serta karakter manusia yang satu dengan yang lain—baik disadari ataupun tidak—tentu akan dipahami secara perlahan ketika ia tumbuh menjadi dewasa.
Dengan begitu, seorang anak kecil yang sering bermain bersama teman-temannya tentu tidak akan menjadi anti sosial karena terbiasa hidup berkelompok. Tentunya nilai persatuan akan terbawa hingga dewasa. Sehingga tidak akan menjadi seorang yang egois, yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri, melainkan akan terbiasa berpikir secara kolektif.
Pembentukan karakter seseorang tidak dapat dilepaskan dari mana seseorang itu tumbuh dan berkembang dalam suatu lingkungan. Tentu akan berbeda karakter seorang yang tumbuh dan berkembang di pesisir pantai dengan anak yang tumbuh dan berkembang di lereng pegunungan. Itulah barangkali kebenaran pepatah yang mengatakan “lain ladang lain belalang”. Artinya di setiap tempat pasti ada perbedaan kebiasaan, adat-istiadat serta pola kehidupan bermasyarakatnya.
Dengan berkumpul dalam satu kelompok tentu terjadi negosiasi kepentingan antara yang satu dengan yang lain. Contoh sederhananya, tidak mungkin semua anak langsung menyepakati sebuah permainan yang akan dimainkan, tentu ada negosiasi kecil di dalamnya. Ada anak yang menginginkan permainan ini, ada yang menginginkan itu, dan lain sebagainya. Tapi karena terbiasa berkelompok, maka permasalahan kecil itu dapat diatasi tanpa ada yang merasa dikalahkan kepentinganya. Hal ini terbukti anak-anak selalu bermain dengan gembira dan ikhlas tanpa sakit hati karena kepentingannya dikalahkan.
Mari kita mencoba lebih mengerucut pada salah satu permainan tradisional, yaitu permainan Petak Umpet. Alangkah baiknya, jika saya memberikan deskripsi singkat mengenai proses permainan Petak Umpet. Walaupun orang di setiap daerah di Indonesia pasti tahu dan mengerti tentang permainan ini, setidaknya hanya untuk menyamakan sudut pandang saja, karena di setiap daerah tentu ada sedikit perbedaan dalam proses permainan, baik dari segi penyebutan nama maupun runtutan proses permainan.
Petak Umpet, khususnya orang Yogyakarta menyebutnya “Dhelikan”. Istilah ini diambil dari kata dasar ‘ndelik’ yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah sembunyi. Jadi tidak ada masalah jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Petak Umpet.
Sebenarnya sejak kapan permainan Petak Umpet mulai ada juga belum jelas. Bahkan siapa penciptanya pun juga tidak jelas, tiba-tiba saja ada di setiap daerah di Indonesia.
Permainan Petak Umpet diawali dengan cara “hompimpah” untuk menentukan siapa yang menjadi penjaga atau orang yang nanti akan mencari teman-teman yang lain dari tempat persembunyiannya. Tempat bagi si penjaga (markas) bisa di setiap tempat, tapi biasanya menghadap ke tembok, pohon, pagar, atau apapun yang bisa digunakan untuk menutup matanya agar tidak melihat teman yang lain mencari tempat untuk bersembunyi.
Nama untuk penyebutan tempat jaga pun brmacam-macam di setiap daerah berbeda penyebutannya. Di Yogyakarta sendiri mempunyai nama berbeda di setiap wilayah. Di kampungku menyebutnya sebagai “Jepungan”, di tetangga kampungku ada yang menyebut “Jethungan” walaupun perbedaan ini tidak begitu esensial. Tetapi akan cukup membingungkan jika tidak dijelaskan di awal.
Permainan dimulai dengan hitungan yang disepakati bersama kemudian setelah hitungannya selesai maka si penjaga akan mulai mencari tempat persembunyian teman-temanya hingga dapat menemukan.
Nah, jika si penjaga dapat menemukan temannya, maka dia akan menyebut nama serta mengucap kata ‘Dul’, tentu di setiap daerah akan lain dalam menyebutnya. Setelah si penjaga menyebut nama sekaligus menyebut ‘Dul’, maka si penjaga harus segera menyentuh tempat “jepungan” agar si teman yang terlihat secara sah menjadi tawanan si penjaga. Yang menjadi menarik, jika pada saat si penjaga sudah mendapat tawanan yang banyak, tetapi tiba-tiba ada seorang teman yang dengan cara mengendap-endap mampunjepung di tempat Jepungan si penjaga. Dengan begitu, teman-teman yang sudah menjadi tawanan diperbolehkan untuk bersembunyi lagi dan permainan mulai dari awal lagi.
Permainan akan selesai jika semua teman yang bersembunyi dapat ditemukan semuanya. Maka akan ada pergantian jaga. Yang akan menjadi penjaga adalah orang yang ditemukan pertama kali. Tapi masih ada satu lagi aturan main yang unik, jika teman yang bersembunyi itu diketahui tempat persembunyiannya akibat diberitahu teman yang lain, maka ini disebut “kobongan”. Jika terjadikobongan, maka permainan akan dimulai dari awal lagi.
Ada juga taktik yang dilakukan anak demi memenangkan permainan. Jika si penjaga sudah menemukan teman-temannya, namun masih tersisa satu teman maka dia akan “tunggu ngebrok”. Tetapi bila ketahuan akan dianggap kalah dan kembali jaga.
Begitulah kira-kira aturan main Petak Umpet yang sering dimainkan oleh anak-anak. Bahkan permainan ini pun akan menarik jika dimainkan oleh orang dewasa. Yang lebih menarik lagi ialah proses sebelum hingga sesudah permainan ini terjadi proses pembelajaran berorganisasi serta taat terhadap aturan yang sudah disepakati bersama. Dari sini sebenarnya kita mampu membentuk karakter seseorang yang akan terbawa hingga dewasa.
Syarat bisa berjalannya permainan Petak Umpet harus diikuti lebih dari dua orang, bahkan sangat menarik jika semakin banyak yang ikut main. dari sini kita bisa lihat bahwa si anak harus mengumpulkan teman-temanya agar berkumpul menjadi satu. Bukankah hal ini merupakan proses organisasi? Ketika sudah berkumpul, si Anak juga harus bernegosiasi dengan teman-temannya agar kepentinganya untuk bermain Petak Umpet dapat disepakati bersama. Karena saking banyaknya permainan anak, tentu tidak mudah meyakinkan teman-temanya bahwa hari ini adalah hari yang asyik untuk bermain Petak Umpet. Maka terjadilah musyawarah yang menghasilkan sebuah mufakat untuk menyepakati bermain Petak Umpet. Untuk itu, jika sejak kecil terbiasa melakukan musyawarah tentu tidak akan terjadi konflik-konfil akibat perbedaan kepentingan yang tajam. Karena semua persoalan diselesaikan secara musyawarah dalam proses-proses dialog yang sehat. Sehingga mampu menghargai kepentingan sosial untuk sedikit mengeyampingkan kepentingan individunya.
Dengan begitu si Anak sejak kecil sudah diajari proses-proses untuk saling menghargai dan tidak menjadi egois dan individual. Karena begitu dia egois tentu akan dijauhi teman-temannya. Contoh konkritnya begini, jika ada seorang anak yang dibenci oleh teman-temannya, biasanya di dalam sebuah permainan akan “dijendilke” (dicurangi) oleh teman yang lain. Dari sisi ini lagi-lagi ada sebuah rapat kecil untuk mempengaruhi teman yang lain untuk mencurangi anak yang dibenci. Tentu saja seorang anak kecil akan merasa“kapok” jika dia selalu dicurangi dalam permainan. Hal ini juga merupakan salah satu kontrol sosial atau sanksi sosial kepada orang yang berbuat nakal sehingga dibenci oleh teman-temannya.Sebuah aturan yang tidak tahu berasal dari mana, namun sangat ditaati oleh anak-anak dalam memainkan sebuah permainan. Karena jika ada salah seorang yang melanggar, maka permainan terasa tidak menyenangkan. Yang membuat permainan menjadi tidak menyenangkan akan diberi saksi sosial seperti yang disebut di atas. Sehingga sejak kecil anak-anak sudah mendapatkan pelajaran mengenai etika bermasyarakat.Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa permainan Petak Umpet tidak sekedar permainan. Ada proses yang sebenarnya rumit tetapi terlihat santai dan menyenangkan jika dilakukan oleh anak-anak.
Inilah vitalitas yang ada dalam permainan anak-anak di Indonesia yang akan membentuk karakter bangsa dengan kokoh tak tergoyahkan. Sehingga jangan pernah menghilangkan atau mengganti permainan-permainan tradisional dengan permainan modern yang hanya bisa dinikmati individu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar